Jumat, 24 April 2015

SISTEM KOLOID


1A. Pengertian Sistem Koloid
Sistem koloid (selanjutnya disingkat "koloid" saja) merupakan suatu bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dapat dijumpai sehari-hari. Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena kepentingannya.

     1. Macam-macam koloid
        Koloid memiliki bentuk bermacam-macam, tergantung dari fase zat pendispersi dan zat                   terdispersinya. Beberapa jenis koloid:
  • Aerosol
Aerosol adalah sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas.Banyak produk dibuat dalam bentuk dalam aerosol, sehingga lebih praktis digunakan. Contohnya, yaitu : Semprot rambut (hair spray), obat  nyamuk  semprot, parfum, cat semprot, dan lain-lain. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Contoh bahan pendorong yang banyak digunakan adalah senyawa klorofluorokarbon (CFC) dan karbon dioksida.
Description: http://ayobelajarayo.files.wordpress.com/2011/08/gnbd.jpg?w=645
Aerosol terbagi 2 yaitu :
1.      Aerosol cair
Aerosol cair yaitu aerosol yang memiliki zat terdispersi cair . (Contohnya : Kabut dan  asap)
2.      Aerosl padat
Aerosol padat yaitu Aerosol yang memilik zat terdispersi padat.
(Contohnya : Asap dan debu dalam udara)
·       Sol
Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. Jenis sol banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri (Contoh: Air sungai, sol sabun, sol detergen , tinta dan cat).
                                                Description: http://ayobelajarayo.files.wordpress.com/2011/08/air.jpg?w=645

                Sol dapat dibagi menjadi:
  1. Sol Padat  merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. Contohnya adalah paduan logam, gelas berwarna, dan intan hitam.
  2. Sol Cair merupakan sol di dalam medium pendispersi cair. Contohnya adalah cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat, dll.
  3. Sol Gas (Aerosol Padat) merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. Contohnya adalah debu di udara, asap pembakaran, dll.
  • Emulsi
    Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain, namun kedua zat cair itu tidak saling melarutkan. (Contoh: santan, susu, mayonaise, dan minyak ikan).
Berdasarkan medium pendispersinya, emulsi dapat dibagi menjadi:
  1. Emulsi Gas (Aerosol Cair) merupakan emulsi di dalam medium pendispersi gas. Aerosol cair seperti hairspray dan baygon, dapat membentuk system koloid dengan bantuan bahan pendorong seperti CFC. Selain itu juga mempunyai sifat seperti sol liofob yaitu efek Tyndall, gerak Brown.
  2.  Emulsi Cair merupakan emulsi di dalam medium pendispersi cair. Emulsi cair melibatkan campuran dua zat cair yang tidak dapat saling melarutkan jika dicampurkan yaitu zat cair polar dan zat cair non-polar. Biasanya salah satu zat cair ini adalah air dan zat lainnya seperti minyak.
                                                               

                Description: http://ayobelajarayo.files.wordpress.com/2011/08/thj.jpg?w=645

               
Sifat emulsi cair yang penting ialah:
1)  Demulsifikasi
          Kestabilan emulsi cair dapat rusak akibat pemanasan, pendinginan, proses sentrifugasi, penambahan elektrolit, dan perusakan zat pengelmusi.

2)  Pengenceran
          Emulsi dapat diencerkan dengan penambahan sejumlah medium pendispersinya.

3)  Emulsi Padat atau Gel
         Gel merupakan emulsi didalam medium pendispersi zat padat. Gel dapat dianggap terbentuk akibat penggumpalan sebagian sol cair. Pada penggumpalan ini, partikel-partikel sol akan bergabung membentuk suatu rantai panjang. Rantai ini kemudian akan saling bertaut sehingga terbentuk suatu struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubung-lubang struktur tersebut.

Berdasarkan sifat keelastisitasnya, gel dapat dibagi menjadi:


Description: http://ayobelajarayo.files.wordpress.com/2011/08/3gwgw.jpg?w=645













  1. Gel elastis (Gel yang bersifat elastis), yaitu dapat berubah bentuk jika diberi gaya dan kembali ke bentuk awal jika gaya ditiadakan. Contoh adalah sabun dan gelatin.
  2. Gel non-elastis (Gel yang bersifat tidak elastis), artinya tidak berubah jika diberi gaya. Contoh adalah gel silika.
  • Buih
    Sistem Koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: pada pengolahan bijih logam, alat pemadam kebakaran, kosmetik dan lainnya).

  • Gel
    sistem koloid kaku atau setengah padat dan setengah cair. (Contoh: agar-agar, Lem).


    Sifat-sifat Koloid
1.    Efek Tyndall
                Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall.
Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.
2.    Gerak Brown
               Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas (dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di tempat  ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
3.    Muatan koloid
Dikenal dua macam koloid, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid bermuatan negatif.

a. Elektroforesis

                        Partikel koloid yg dapat bergerak dalam medan listrik.
pergerakan partikel koloid dala medan listrik disebut elektroforesis.
Koloid bermutan negatif bergerk ke elektrode positif (anode) sedangkan koloid yang bermuatan positif bergerak ke elektrode negatif (katode). Dengan demikian elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.
Elektroforesis menjadi salah satu cara canggih mengidentifikasi DNA dalam rangka dan korban atau pelaku kejahatan.

 b. Adsorpsi                                                                                                                                         Adsorpsi
ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. (Catatan : Adsorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel). Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2. Sifat adsorpsi dari koloid ini digunakan dalam berbagai proses antara lain:

1. Pemutihan gula tebu
Gula yang berwarna dilarutkan dalam air kemudian dialir
kan melalui tanah diatomae dan arang tulang. Zat-zat warna dalam gula akan di adsorpsi, sehingga diperoleh gula yang putih bersih.

2. Norit
Norit adalah tablet yang terbuat dari karbon aktif. Di dalam Usus, norit membentuk sistem koloid yang dapat mengadsorpsi gas atau zat racun.

3. Penjernihan air
Penjernian Airdapat dilakukan menambahkan tawas atau alumanium sulfat. Di dalam air aluminium sulfat terhidrolisis membentuk  yang berupa koloid. Koloid  ini dapat mengadsorpsi zat-zat warna atau zat pencemar dalam air.

  • Koagulasi koloid                                                                                                         Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
  • Koloid pelindung
Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi.
  • Dialisis
Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses dialisis. Yaitu dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semi permeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.
  • Elektroforesis
Elektroferesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan arus listrik.


Sabtu, 01 September 2012

Fungsi Nukleus
1. Mengendalikan proses berlangsunnya metabolisme di dalam sel.
2. Menyimpan informasi Genetik (GEN) dalam bentuk DNA.
3. Mengatur kapan dan dimana ekspresi gen-gen harus dimulai, dijalankan, dan diakhiri.
4. Tempat terjadinya replikasi (perbanyakan DNA) dan transkripsi (pengutipan DNA)